Selasa, 29 April 2014

Makalah Asal Mula Kejadian Manusia




MAKALAH
“ASAL MULA KEJADIAN MANUSIA ”

Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam



 




 
Disusun Oleh :
1.        Dody Choirul                   ( 1.12.30.0041)
2.        Ayu Widyaningsih          ( 1.12.30.0068)


FAKULTAS EKONOMI -  JURUSAN AKUNTANSI
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
“ GANESHA”
JAKARTA
2013 / 2014





KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas  segala rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI).
Makalah ini dapat digunakan sebagai wadah untuk menambah pengetahuan, sebagai teman belajar, dan sebagai referensi tambahan dalam belajar. Makalah ini dibuat sedemikian rupa agar pembaca dapat dengan mudah mempelajari dan memahami tentang materi asal mula kejadian manusia secara lebih lanjut.
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada semua yang telah membantu dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan menyelesaikan penulisan makalah ini. Segala upaya telah dilakukan untuk menyempurnakan makalah ini, namun tidak mustahil apabila dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan dalam penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang Agama Islam, Amin.


Cepu,    Mei 2014



       Penyusun 






DAFTAR ISI
 
Halaman Judul...........................................................................................................   i
Kata Pengantar...........................................................................................................   ii
Daftar Isi....................................................................................................................   iii
BAB I   PENDAHULUAN........................................................................................   1
A.      Latar Belakang.........................................................................................    1
B.       Rumusan Masalah....................................................................................   2
C.       Tujuan Penulisan.....................................................................................    2
D.      Manfaat Penulisan....................................................................................   2
E.       Metode Penulisan.....................................................................................   2
BAB II LANDASAN TEORI...................................................................................   3
A.      Pengertian Manusia.................................................................................   3
B.       Hakekat Manusia.....................................................................................   4
          BAB III PEMBAHASAN ........................................................................................   5       
A.      Proses Kejadian Manusia menurut Al-Quran.......................................   5
B.       Asal Mula  Kejadian Manusia Menurut Al-Quran  ............................   7
C.       Asal Mula  Kejadian Manusia Menurut Ilmu Dunia..........................   13
D.      Tugas Manusia Dimuka Bumi................................................................   15
          BAB IV PENUTUP .................................................................................................   17
A.      Kesimpulan..............................................................................................   17
B.       Saran........................................................................................................   18
          DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................   19




BAB I
PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang Masalah
Sebetulnya kita sudah tahu bahwa manusia adalah ciptaan Allah SWT, yang paling sempurna karena diberi akal, nafsu, panca indra, fisik yang baik, dan lain - lain. Dan manusia tidak begitu saja ada dimuka bumi ini selain Allah yang menciptakan kita, tetapi ada proses dimana kita berada di muka bumi ini, melalui ibu kita lahir ke dunia dan dengan ke Agungan Allah SWT, kita keluar dari rahim ibu.
Pada dasarnya kita tidak menghiraukan apa dan bagaimana kita ada dimuka bumi ini, tetapi sebagai seorang yang beriman untuk lebih memantapkan lagi keimanan kita kepada Allah SWT, maka seyogyanya kita tahu asal - usul kejadian manusia. Khususnya kita seorang muslim yang tidak mau ternodai dengan pemahaman - pemahaman kafir, dimana kita dilahirkan ke muka bumi ini prosesnya ada dalam Al-Qur’an. Karena, diantara sekian banyak penemuan manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian canggih, masih ada satu permasalahan yang hingga kini belum mampu dijawab dan dijabarkan oleh manusia secara eksak dan ilmiah. Masalah itu ialah masalah tentang asal usul kejadian manusia.
Banyak ahli ilmu pengetahuan mendukung teori evolusi yang mengatakan bahwa makhluk hidup (manusia) berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun kemampuan yang sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi manusia seperti sekarang ini. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan-penemuan ilmiah berupa fosil seperti jenis Pitheccanthropus dan Meghanthropus. Tetapi sebagai seorang muslim maka kita harus berpedoman pada Al-Qur’an tentang asal - usul kejadian manusia. Lalu bagaimanakah asal mula kejadian manusia yang Allah SWT firmankan dalam Al-Qur’an? maka atas dasar itulah kami menyusun makalah ini. Mudah-mudahan sedikitnya kami dapat menggambarkan bagaimana asal mula kejadian manusia yang terkandung dalam Al-Qur’an.




B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
            1.    Bagaimana proses terjadinya manusia menurut Al-Quran ?
            2.    Bagaimana asal - mula kejadian manusia menurut Al-Quran ?
           3.    Bagaimana asal - usul manusia menurut ilmu dunia ?
           4.    Apa tugas Allah menciptakan manusia dimuka Bumi ?

C.  Tujuan Penulisan Makalah
Adapun yang menjadi Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.    Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
2.    Untuk mengetahui proses terjadinya manusia menurut Al-Quran.
3.    Supaya kita lebih memahami dan meningkatkan keimanan kita dengan mengetahui asal-usul kejadian manusia.
4.    Untuk mengetahui asal - mula kejadian manusia menurut ilmu dunia.
5.    Untuk mengetahui tugas , Allah menciptakan manusia dimuka Bumi.

D.  Manfaat Penulisan Makalah
1.      Kita mengetahui proses terjadinya manusia menurut Al-Quran.
2.      Kita mengetahui asal - mula kejadian manusia menurut Al-Quran.
3.      Kita mengetahui asal usul manusia menurut ilmu dunia.
4.      Kita mengetahui tugas Allah menciptakan manusia dimuka Bumi

E.  Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini, kami menggunakan metode kepustakaan dengan mengambil referensi - referensi dari berbagai rujukan yaitu dari : Internet


 BAB II
LANDASAN TEORI

A.      Pengertian Manusia
Berikut pengertian manusia menurut beberapa para ahli :
1.    Nicolaus D. & A. Sudiarja , manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang.
2.    Abineno J. I, manusia adalah "tubuh yang berjiwa" dan bukan "jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana".
3.    Upanisads, manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik.
4.    I Wayan Watra,  manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa.
5.    Omar Mohammad Al – Toumy Al – Syaibany , manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.
6.    Erbe Sentanu, manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain.
7.    Paula J. C & Janet W. K,  manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinan.
8.        Ibn Jurair al-Tabari, asal perkataan nutfah ialah nutf artinya air yang sedikit yang terdapat di dalam sesuatu bekas samada telaga, tabung dan sebagainya. Sementara perkataan amsyaj berasal daripada perkataan masyj yang berarti percampuran. Berasaskan kepada makna perkataan tersebut maksud ayat di atas ialah sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan manusia daripada air mani lelaki dan air mani perempuan.
Dari nutfah inilah Allah menciptakan anggota - anggota yang berlainan, tingkah laku yang berbeda serta menjadikan lelaki dan perempuan. Dari nutfah lelaki akan terbentuknya saraf, dan tulang, manakala dari nutfah perempuan akan terbentuknya darah dan daging.


B.       Hakekat Manusia
Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
1.    Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2.    Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
3.    Yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
4.    Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
5.    Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati.
6.    Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas.
7.    Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
8.    Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
Dibanding makhluk lainnya manusia mempunyai kelebihan - kelebihan. Kelebihan-kelebihan itu membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik didarat, dilaut, maupun diudara. Sedangkan binatang bergerak diruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang bergerak didarat dan dilaut, namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa melampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atas makhluk lain dijelaskan surat al-Isra’ ayat 70.
Disamping itu, manusia diberi akal dan hati, sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa al-Quran menurut sunah rasul. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya (at-Tiin : 95:4). Namun demikian, manusia akan tetap bermartabat mulia kalau mereka sebagai khalifah (makhluk alternatif) tetap hidup dengan ajaran Allah (QS. Al-An’am : 165). Karena ilmunya itulah manusia dilebihkan (bisa dibedakan) dengan makhluk lainnya.
Jika manusia hidup dengan ilmu selain ilmu Allah, manusia tidak bermartabat lagi. Dalam keadaan demikian manusia disamakan dengan binatang, “mereka itu seperti binatang (ulaaika kal an’aam), bahkan lebih buruk dari binatang (bal hum adhal). Dalam keadaan demikian manusia bermartabat rendah ( at-Tiin : 4 ).

BAB III
PEMBAHASAN

A. Proses Kejadian Manusia menurut Al-Quran
1. Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
Artinya :
"yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah". (QS. As Sajdah (32) : 7)
              Dan Allah juga berfirman dalam Qur’an Surat Al - Hijr : 26
Artinya :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". (QS. Al Hijr (15) : 26)
Disamping Allah SWT menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalam Al-Qur’an. Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
"Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah".
(HR. Bukhari)


2. Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)


Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang - pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah satu firman-Nya :

Artinya :
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" (QS. Yaasiin (36) : 36).


Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :




Artinya :
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak." (QS. An Nisaa’ (4) : 1)
  Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
         "Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam"
(HR. Bukhari-Muslim)
Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.
B.  Asal Mula  Kejadian Manusia Menurut Al-Quran
Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa) adalah asal usul manusia, yaitu kita diciptakan tidak langsung seperti nabi Adam As. Dan Siti Hawa, namun ada beberapa proses yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an. Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis. Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya  :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ  ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
Artinya :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun : 12-14).
وَ” اللَّهْ “لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَان” آدَم “مِنْ سُلَالَة” هِيَ مِنْ سَلَلْت الشَّيْء مِنْ الشَّيْء أَيْ اسْتَخْرَجْته مِنْهُ وَهُوَ خُلَاصَته “مِنْ طِين” مُتَعَلِّق بِسُلَالَةٍ. “ثُمَّ جَعَلْنَاهُ” أَيْ الْإِنْسَان نَسْل آدَم “نُطْفَة” مَنِيًّا “فِي قَرَار مَكِين” هُوَ الرَّحِم. “ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَة عَلَقَة” دَمًا جَامِدًا “فَخَلَقْنَا الْعَلَقَة مُضْغَة” لَحْمَة قَدْر مَا يُمْضَغ “فَخَلَقْنَا الْمُضْغَة عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَام لَحْمًا” وَفِي قِرَاءَة عَظْمًا فِي الْمَوْضِعَيْنِ وَخَلَقْنَا فِي الْمَوَاضِع الثَّلَاث بِمَعْنَى صَيَّرْنَا “ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَر” بِنَفْخِ الرُّوح فِيهِ “فَتَبَارَكَ اللَّه أَحْسَن الْخَالِقِينَ” أَيْ الْمُقَدِّرِينَ وَمُمَيَّز أَحْسَن مَحْذُوف لِلْعِلْمِ بِهِ : أَيْ خَلْقًا

Artinya :
(Dan) Allah telah berfirman, (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia) yakni Adam (dari suatu sari pati) lafal Sulaalatin berasal dari perkataan Salaltusy Syai-a Minasy Syai-i, artinya aku telah memeras sesuatu daripadanya, yang dimaksud adalah inti sari dari sesuatu itu (berasal dari tanah) lafal Min Thiinin berta’alluq kepada lafal Sulaalatin. (Kemudian Kami jadikan ia) manusia atau keturunan Adam (dari nuthfah) yakni air mani (yang berada dalam tempat yang kokoh) yaitu rahim. (Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah) darah kental . (lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging) daging yang besarnya sekepal tangan. (dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging) menurut qiraat yang lain lafal ‘Izhaaman dalam dua tempat tadi dibaca ‘Azhman, yakni dalam bentuk tunggal. Dan lafal Khalaqnaa yang artinya menciptakan, pada tiga tempat tadi bermakna Shayyarnaa, artinya Kami jadikan. (kemudian Kami jadikan dia sebagai makhluk yang lain) yaitu dengan ditiupkan roh ke dalam tubuhnya.
(Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik) sebaik-baik Yang Menciptakan. Sedangkan Mumayyiz dari lafal Ahsan tidak disebutkan, karena sudah dapat diketahui dengan sendirinya, yaitu lafal Khalqan. ( Tafsir Jalalain 2/195 )
 Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
“Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).” (HR. Bukhari-Muslim)
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
Para ahli dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara bertahap pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi dalam Al Qur’an dan Hadits yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah tercantum. Ini sangat mengagumkan bagi salah seorang embriolog terkemuka dari Amerika yaitu Prof. Dr. Keith Moore, beliau mengatakan : “Saya takjub pada keakuratan ilmiyah pernyataan Al Qur’an yang diturunkan pada abad ke - 7 M itu”. Selain itu beliau juga mengatakan, “Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh sebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya.
Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embrio berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :





Artinya :
“…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)…” (QS. Az Zumar (39) : 6). Kita sebagai umat yang mengakui dan meyakini rukun iman yang enam, maka sudah sepantasnya kita mengakui bahwa Al Qur’an adalah satu-satunya literatur yang paling benar dan bersifat global bagi ilmu pengetahuan.
 


Artinya :
“Kitab (Al Qur’an) in tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib…..” (QS. Al Baqarah (2) : 2-3)
Dengan memperhatikan ayat tersebut maka kita seharusnya tidak perlu berkecil hati menghadapi orang- orang yang menyangkal kebenaran keterangan mengenai asal usul manusia.  Salah satu fenomena yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan Al Hadits adalah perkembangan janin dalam rahim yang kemudian dalam istilah ilmu pengetahuan modern disebut embriologi.
Dari Al Qur’an dan Al Hadits di atas menunujukkan bahwa Allah Ta`ala menciptakan manusia melalui fase-fase berikut :
  1. Nuthfah
    Ibnu Abbas RA memberikan tafsir tentang “min nuthfatin Amsyaj” dalam surat Al Mu’minun : 12 bahwa nuthfatun amsyaj adalah sperma laki-laki dan sel telur perempuan yang telah bertemu dan terjadi pembuahan kemudian terjadi perubahan dari keadaan yang satu kepada yang lain dan dari bentuk yang satu kepada bentuk yang lain. Imam Al Qurthuby Rahimahullah berkata : “Bahwasanya sperma di dalam rahim ketika dilepaskannya dengan kekuatan syahwat yang menjadikan mani itu tersebar dan bertaburan, maka Allah Ta`ala mengumpulkannya di dalam rahim tersebut”.



Gambar 1.
Riset para ahli embriologi menyebutkan bahwa selain mengandung spermatozoa (sperma) air mani juga tersusun dari berbagai campuran yang berlainan yang mempunyai fungsi masing-masing, misalnya mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi spermatozoa, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma. Air mani yang tersusun dari berbagai campuran tersebut telah disebutkan dalam Al- Qur’an. “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (mani)”. (QS. As Sajdah : 7-8). Kata-kata sulalah (saripati) pada ayat tersebut merupakan bagian yang mendasar atau “bagian dari satu kesatuan”.
2.    ‘Alaqah
‘Alaqah secara bahasa mempunyai arti sesuatu yang mengambang atau menempel, sedangkan pada ‘alaqah ini embrio berbentuk segumpal darah sebagaimana ditegaskan Allah SWT : “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. Al ‘Alaq : 2). ‘Alaqah merupakan bahan dasar bayi yang berupa sel tunggal, dalam istilah biologi sel ini disebut zigot sebagai “segumpal darah”, istilah ‘alaqah ini juga tersebut dalam firman Allah SWT : “kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya,dan menyempurnakannya”. (QS. Al Qiyamah : 38).


Gambar 2.
3.    Mudghah
“…lalu segumpal darah itu Kami jadikan daging,…” ( QS. Al Mukminun : 14).
Mudghah yang mempunyai arti segumpal daging ini merupakan fase yang mana berbentuk lengkung, dengan penampakan gelembung
- gelembung serta alur - alur.
Embrio yang tumbuh berumur 40 - 42 hari tidak lagi mirip dengan embrio hewan karena sudah dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW dari Hudzaifah ibnu Asid : “Ketika nuthfah telah lewat 42 malam dari penciptaan, Allah Ta`ala mengirim malaikat untuk membentuknya dan menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang. Kemudian malaikat bertanya : Ya Allah, ini akan dijadikan laki-laki atau perempuan ? Dan Allah memutuskan apa yang dikehendakiNya, ..”  (HR. Muslim no : 2645)
 



Gambar 3.
4.    Peniupan Ruh
Ruh merupakan penggerak dan pertanda dari kehidupan seorang hamba, tanpa adanya ruh maka jasad yang telah terbentuk tidak akan sempurna. Tentang ruh ini Allah Ta`ala berfirman : “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. Al Isra’ : 85)
Para ahli ilmu mendefinisikan ruh sebagai organ lembut yang berada pada badan. Proses peniupan ruh oleh malaikat tersebut diiringi dengan proses penentuan rizkinya, ajalnya, amalnya dan ia celaka atau bahagia. Proses peniupan ruh pada embrio tersebut ketika berumur 120 hari sebagaimana disebutkan pada hadits dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud RA. yang sudah tersebut di atas.
Hal lain yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah bahwa embrio terselubungi oleh tiga kegelapan “dzulumatin tsalats“. Para pakar embriologi menyebutkan bahwa maksud dari tiga tabir kegelapan itu adalah ; 1. Dinding bagian dalam perut ibu, 2. Dinding uterus, dan 3. Membran amniokorionik. Maha benar Allah Ta`ala dengan firmanNya : “…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)…”. (QS. Az Zumar : 6)



Gambar 4.

 
C.      Asal Mula  Kejadian Manusia Menurut Ilmu Dunia

Perbedaan pendapat tentang apakah adam manusia pertama atau tidak, diciptakan langsung atau melalui suatu proses tampaknya tidak akan ada ujungnya karena masing-masing akan teguh pada pendiriannya. Jika polemik ini senantiasa diperpanjang, jangan-jangan hanya akan menghabiskan waktu dan tidak sempat lagi memikirkan tentang status dn tugas yang telah ditetapkan Allah pada manusia Al-Quran cukup lengkap dalam memberikan informasi tentang itu.
Untuk memahami informasi tersebut secara mendalam, ahli - ahli kimia, biologi, dan lain-lainnya perlu dilibatkan, agar dalam memahami ayat - ayat tersebut tidak secara harfiah. Yang perlu diingatkan sekarang adalah bahwa manusia oleh Allah, diharapkan menjadi khalifah (pemilih atau penerus ajaran Allah). Status manusia sebagai khalifah, dinyatakan dalam surat Al-Baqarah ayat 30. Kata khalifah berasal dari kata khalafa yakhlifu khilafatan atau khalifatan yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan sebagai pemilih atau penerus ajaran Allah. Kebanyakan umat Islam menerjemahkan dengan pemimpin atau pengganti, yang biasanya dihubungkan dengan jabatan pimpinan umat islam sesudah Nabi Muhammad saw wafat, baik pimpinan yang termasuk khulafaurrasyidin maupun di masa Muawiyah-‘Abbasiah.
Perlu diingat bahwa istilah khalifah pernah dimunculkan Abu bakar pada waktu dipercaya untuk memimpin umat islam. Pada waktu itu beliau mengucapkan inni khalifaur rasulillah, yang berarti aku adalah pelanjut sunah rasulillah. Dalam pidatonya setelah diangkat oleh umat islam, abu bakar antara lain menyatakan “selama saya menaati Allah, maka ikutilah saya, tetapi apabila saya menyimpang , maka luruskanlah saya”. Jika demikian pengertian khalifah, maka tidak setiap manusia mampu menerima atau melaksanakan kekhalifahannya. Hal itu karena kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang mau memilih ajaran Allah.
Sejarah asal mula manusia menurut Islam dan teori evolusi menurut para ahli. Begitu banyak penemuan manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi masih ada satu permasalahan yang hingga kini belum mampu dijawab dan dijabarkan oleh manusia secara eksak dan ilmiah. Masalah itu ialah masalah tentang asal usul kejadian manusia.
Banyak para ahli mempercayai bahwa, kehidupan manusia berawal dari terpisahnya sebuah spesies hominid dari garis evolusi primata yang akan menurunkan simpanse dan gorila. Kemudian, hominid ini berkembang dan menurunkan manusia modern, Homo sapiens. pernyataan ini dipengaruhi oleh teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin.
Teori evolusi adalah suatu teori yang menyatakan bahwa makhluk hidup pada masa lampau, beradaptasi dan mengalami perubahan bentuk bagian-bagian tubuhnya. biasanya, proses ini terjadi dalam waktu yang sangat lama. Proses ini disebut evolusi.
Teori evolusi mengatakan bahwa manusia merupakan keturunan dari hominid. Hominid adalah makhluk hidup yang memiliki ciri-ciri diantara manusia dan kera. Banyak fosil-fosil hominid ini tersebar di seluruh bagian dunia. Fosil hominid tertua yang pernah ditemukan adalah Australopithecus africanus. Hominid ini ditemukan di Afrika. Australopithecus memiliki kapasitas otak sebesar 450 cc. Hominid ini sudah bisa berjalan dengan posisi tegak. Posisi tegak ini sangat penting karena, posisi ini memberikan beberapa keuntungan bagi hominid ini. Contohnya hominid ini sudah bisa melihat benda dalam jarak yang jauh dan ia sudah bisa memindahkan berat ke tangan.
Sekitar 2 juta tahun yang lalu, muncullah Homo habilis, spesies ini diperkirakan merupakan keturunan dari Australopithecus africanus. Homo habilis sudah memiliki kemampuan untuk membuat peralatan-peralatan kasar dari batu-batuan dan tulang hewan. Mereka bertahan hingga sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Kemudian, mereka digantikan oleh Homo Erectus.
Homo erectus adalah jenis hominid yang kemungkinan besar merupakan keturunan dari Homo Habilis. Homo erectus memiliki kapasitas otak yang lebih besar daripada Homo habilis. Mereka sudah mamou membuat peralatan yang lebih halus dan rapi dari bebatuan dan tulang hewan.
Kemudian, Homo erctus menurunkan Homo Neanderthalensis. Homo Neanderthalensis hidup di gua-gua dan telah bisa mengubur orang mati. Di beberapa wilayah, mereka mampu bertahan sampai 40.000 tahun yang lalu. Akan tetapi, mereka punah dan digantikan Homo sapiens, manusia modern. Itulah sejarah asal mula manusia menurut teori  evolusi






D.      Tugas Manusia Dimuka Bumi

Didalam Al-Qur’an ada tiga istilah yang digunakan untuk menunjuk manusia yaitu :
1.      Menggunakan huruf alif, nun, sin, semacam: insan, ins, nas, dan unas.
2.      Menggunakan basher
3.      Menggunakan kata bani Adam dan Zuriyat Adam.

Sejatinya kita sudah tau apa tugas kita dimuka bumi ini, kita diciptakan allah SWT sebagai Abdillah (abdinya Allah) dan Khalifah.
 1.  Manusia sebagai Abdillah
Kita hidup didunia ini tidak semata-mata untuk bersenang-senang, berfoya - foya dan melakukan hal-hal diluar norma yang sudah Allah SWT gariskan, tidak tahu bahwa nanti kita akan memasuki alam akhirat dan tidak tahu akan ada hari pembalasan. Padahal kita hidup didunia ini yaitu untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah SWT, sesuai dengan Firman Allah Q.S Adzariyat 56.
Artinya :
“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi “

Manusia dan jin diperintahkan menyembah Allah SWT, wajib tunduk kepada peraturan Allah SWT, mereka dijadikan atas kehendak-Nya tidak ada seorangpun yang dapat memberikan mampaat atau mendatangkan mudharat karena semuanya adalah dengan kehendak Allah SWT.
            Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah : 31.
!                   


Artinya :
“ …. Tidaklah mereka itu diperintahkan untuk menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada   Tuhan(yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”
2.  Manusia sebagai Khalifah (Pemimpin)
Nabi Adam AS diturunkan kebumi ini untuk menjadi pemimpin yang mengelola bumi, karena manusia makhluk yang sempurna, buktinya dengan kemajuan yang dilahirkan oleh manusia baik dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju. Manusia juga sebagai pemimpin, bagaimana mengatur kesetabilan kehidupan dunia supaya aman, damai, dan sejahtera.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat Al-Baqoroh : 30
Artinya :
ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Dalam Al-Qur’an Surat AL-Araf 12
Artinya : Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah".
BAB IV
PENUTUP

A.  Kesimpulan

Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup.
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Siti hawa adalah manusia kedua setelah nabi Adam AS.
Adapun tahap kejadian manusia yaitu;tahap kejadian pertama (Adam), tahap kejadian kedua(Hawa), dan tahap kejadian ketiga(semua keturunan Adam dan hawa).
Manusia merupakan mahkluk yang mempunyai banyak keistimewaan dibandingkan mahkluk ciptaan Allah yang lain. Banyak sekali perdebatan mengenai asal-usul penciptaan manusia. Namun Al-qur’an berhasil menjawab keraguan kita. Al Qur’an dan Al Hadits telah menjelaskan secara periodik dan sistematik tentang tahap-tahap perkembangan embrio dalam rahim.
Al-Quran menjelaskan tahap-tahap perkembangan sebelum kelahiran sebagai berikut:
1.    Nutfah (setetes sperma)
2.    ‘alaqah ( segumpal darah yang melekat pada dinding uterus)
3.    Mudhgah (segumpal daging yang belum bertulang)
4.    Tulang, dan
5.    Daging
Allah menuturkan tentang kekuasaan dan kelembutan-Nya mengenai penciptaan manusia dari setetes mani dari satu tahap ketahapan lainnya, dari satu bentuk kebentuklainnya hingga terciptalah sosok manusia yang lengkap dan sempurna, kemudian Allah berfirman {فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ} yaitu Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

B.       Saran
Perlunya bagi kita umat Islam untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai ayat-ayat al-Qur`an. Karena al-Qur`an sebagai pegangan hidup dan di dalamnya telah tertera dengan jelas mengenai segala sesuatunya termasuk ayat Al-Quran yang menyangkut tentang proses penciptaan/terbentuknya atau dengan kata lain kejadian manusia. Tidak sepatutnya kita saling menyombongkan diri, menyalahkan dan membenarkan diri atau takkabur terhadap sesama, karena manusia hanyalah hamba yang lemah  yang hanya diciptakan dari tanah serta tetes air hina. Semua yang berkuasa  dan yang patut sombong hanyalah Allah Azza Wajallah. Maka dari itu mari kita saling menjaga dan intropeksi serta belajar untuk menjadi manusia yang ideal dan manusia yang mempunyai insan  iman dan takqwa.
Dan dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca sekalian demi kesempurnaan makalah ini dan sebagai bahan pembelajaran buat kami.













DAFTAR PUSTAKA
file:///H:/t10406-proses-penciptaan-manusia-dalam-al-qur-an.htm