MAKALAH
“ASAL MULA KEJADIAN MANUSIA ”
Diajukan untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah Pendidikan Agama Islam
Disusun
Oleh :
1.
Dody Choirul ( 1.12.30.0041)
2.
Ayu Widyaningsih ( 1.12.30.0068)
FAKULTAS
EKONOMI - JURUSAN AKUNTANSI
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
“ GANESHA”
JAKARTA
2013 / 2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kami
ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan
Agama Islam (PAI).
Makalah ini dapat digunakan
sebagai wadah untuk menambah pengetahuan, sebagai teman belajar, dan sebagai referensi
tambahan dalam belajar. Makalah ini dibuat sedemikian rupa agar pembaca dapat
dengan mudah mempelajari dan memahami tentang materi asal mula kejadian manusia secara lebih lanjut.
Ucapan terima kasih kami ucapkan
kepada semua yang telah membantu dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan
menyelesaikan penulisan makalah ini. Segala upaya telah dilakukan untuk
menyempurnakan makalah ini, namun tidak mustahil apabila dalam makalah ini masih
banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan dalam penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang Agama
Islam, Amin.
Cepu, Mei 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul........................................................................................................... i
Kata Pengantar........................................................................................................... ii
Daftar Isi.................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A.
Latar Belakang......................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah.................................................................................... 2
C.
Tujuan Penulisan..................................................................................... 2
D.
Manfaat Penulisan.................................................................................... 2
E.
Metode Penulisan..................................................................................... 2
BAB II LANDASAN TEORI................................................................................... 3
A.
Pengertian Manusia................................................................................. 3
B.
Hakekat Manusia..................................................................................... 4
BAB III PEMBAHASAN
........................................................................................ 5
A. Proses
Kejadian Manusia menurut Al-Quran....................................... 5
B. Asal Mula
Kejadian Manusia Menurut
Al-Quran ............................ 7
C. Asal Mula
Kejadian Manusia Menurut Ilmu
Dunia.......................... 13
D. Tugas Manusia Dimuka Bumi................................................................ 15
BAB IV PENUTUP ................................................................................................. 17
A. Kesimpulan.............................................................................................. 17
B. Saran........................................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 19
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sebetulnya kita sudah
tahu bahwa manusia adalah ciptaan Allah SWT, yang paling sempurna karena diberi
akal, nafsu, panca indra, fisik yang baik, dan lain - lain. Dan manusia tidak
begitu saja ada dimuka bumi ini selain Allah yang menciptakan kita, tetapi ada
proses dimana kita berada di muka bumi ini, melalui ibu kita lahir ke dunia dan
dengan ke Agungan Allah SWT, kita keluar dari rahim ibu.
Pada dasarnya kita tidak
menghiraukan apa dan bagaimana kita ada dimuka bumi ini, tetapi sebagai seorang
yang beriman untuk lebih memantapkan lagi keimanan kita kepada Allah SWT, maka
seyogyanya kita tahu asal - usul kejadian manusia. Khususnya kita seorang muslim
yang tidak mau ternodai dengan pemahaman - pemahaman kafir, dimana kita
dilahirkan ke muka bumi ini prosesnya ada dalam Al-Qur’an. Karena, diantara sekian banyak
penemuan manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian
canggih, masih ada satu permasalahan yang hingga kini belum mampu dijawab dan
dijabarkan oleh manusia secara eksak dan ilmiah. Masalah itu ialah masalah
tentang asal usul kejadian manusia.
Banyak ahli ilmu pengetahuan mendukung teori evolusi yang mengatakan
bahwa makhluk hidup (manusia) berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun
kemampuan yang sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi
manusia seperti sekarang ini. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan-penemuan
ilmiah berupa fosil seperti jenis Pitheccanthropus dan Meghanthropus.
Tetapi sebagai seorang muslim maka kita harus berpedoman pada Al-Qur’an tentang
asal - usul kejadian
manusia. Lalu
bagaimanakah asal mula
kejadian manusia yang Allah SWT firmankan dalam Al-Qur’an? maka atas dasar itulah
kami menyusun makalah
ini. Mudah-mudahan sedikitnya kami dapat menggambarkan bagaimana asal mula kejadian manusia yang terkandung dalam Al-Qur’an.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.
Bagaimana proses terjadinya manusia menurut Al-Quran ?
2. Bagaimana asal - mula kejadian manusia menurut
Al-Quran ?
3.
Bagaimana asal - usul manusia menurut ilmu dunia ?
4. Apa tugas Allah menciptakan manusia dimuka Bumi
?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun
yang menjadi Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Pendidikan Agama
Islam.
2.
Untuk mengetahui proses terjadinya manusia menurut
Al-Quran.
3.
Supaya kita lebih memahami dan meningkatkan keimanan kita dengan mengetahui
asal-usul kejadian manusia.
4.
Untuk mengetahui asal - mula kejadian manusia menurut ilmu dunia.
5.
Untuk mengetahui tugas , Allah menciptakan manusia dimuka Bumi.
D. Manfaat Penulisan Makalah
1. Kita mengetahui proses terjadinya manusia menurut
Al-Quran.
2. Kita mengetahui asal - mula kejadian manusia menurut
Al-Quran.
3. Kita mengetahui asal usul manusia menurut ilmu
dunia.
4. Kita mengetahui tugas Allah menciptakan manusia dimuka Bumi
E.
Metode
Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini, kami menggunakan
metode kepustakaan dengan mengambil referensi - referensi dari berbagai rujukan
yaitu dari : Internet
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Pengertian Manusia
Berikut pengertian manusia menurut beberapa para
ahli :
1.
Nicolaus D. & A. Sudiarja , manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani
dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan
satu barang.
2.
Abineno J. I, manusia
adalah "tubuh yang berjiwa" dan bukan "jiwa abadi yang berada
atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana".
3.
Upanisads, manusia
adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau
badan fisik.
4.
I Wayan Watra, manusia
adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan
karsa.
5.
Omar Mohammad Al – Toumy Al – Syaibany , manusia
adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan
manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia
dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.
6.
Erbe Sentanu, manusia
adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan
dengan mahluk yang lain.
7.
Paula J. C & Janet W. K, manusia
adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung
jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola
berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinan.
8.
Ibn Jurair al-Tabari,
asal perkataan nutfah ialah nutf artinya air yang sedikit yang
terdapat di dalam sesuatu bekas samada telaga, tabung dan sebagainya. Sementara
perkataan amsyaj berasal daripada
perkataan masyj yang berarti percampuran. Berasaskan kepada makna perkataan
tersebut maksud ayat di atas ialah sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan
manusia daripada air mani lelaki dan air mani
perempuan.
Dari nutfah inilah Allah
menciptakan anggota - anggota yang berlainan, tingkah laku yang berbeda serta menjadikan
lelaki dan perempuan. Dari nutfah lelaki akan terbentuknya saraf, dan tulang, manakala dari nutfah
perempuan akan terbentuknya darah dan daging.
B.
Hakekat Manusia
Hakekat
manusia adalah sebagai berikut :
1. Makhluk
yang memiliki tenaga
dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2. Individu
yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku
intelektual dan sosial.
3.
Yang
mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol
dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
4.
Makhluk yang dalam proses menjadi
berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
5.
Individu yang dalam hidupnya
selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri,
membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati.
6.
Suatu keberadaan yang berpotensi yang
perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas.
7.
Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah
makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
8. Individu
yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama lingkungan sosial, bahkan ia
tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam
lingkungan sosial.
Dibanding
makhluk lainnya manusia mempunyai kelebihan - kelebihan. Kelebihan-kelebihan itu
membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan
untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik didarat, dilaut, maupun
diudara. Sedangkan binatang bergerak diruang yang terbatas. Walaupun ada
binatang yang bergerak didarat dan dilaut, namun tetap saja mempunyai
keterbatasan dan tidak bisa melampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atas
makhluk lain dijelaskan surat al-Isra’ ayat 70.
Disamping
itu, manusia diberi akal dan hati, sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan
Allah, berupa al-Quran menurut sunah rasul. Dengan ilmu manusia mampu
berbudaya. Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya (at-Tiin :
95:4). Namun demikian, manusia akan tetap bermartabat mulia kalau mereka
sebagai khalifah (makhluk alternatif) tetap hidup dengan ajaran Allah (QS.
Al-An’am : 165). Karena ilmunya itulah manusia dilebihkan (bisa dibedakan)
dengan makhluk lainnya.
Jika
manusia hidup dengan
ilmu selain ilmu Allah, manusia tidak bermartabat lagi. Dalam keadaan demikian
manusia disamakan dengan binatang, “mereka itu seperti binatang (ulaaika kal
an’aam), bahkan lebih buruk dari binatang (bal hum adhal). Dalam keadaan
demikian manusia bermartabat rendah ( at-Tiin : 4 ).
BAB III
PEMBAHASAN
A. Proses
Kejadian Manusia menurut
Al-Quran
1. Proses
Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah
kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah
sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal
ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
Artinya :
"yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah". (QS. As Sajdah (32) : 7)
Dan
Allah juga berfirman dalam Qur’an Surat Al - Hijr : 26
Artinya :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". (QS. Al
Hijr (15) : 26)
Disamping Allah SWT menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalam Al-Qur’an. Di dalam
sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
"Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan)
dari tanah".
(HR. Bukhari)
2. Proses
Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Artinya :
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya,
baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa
yang tidak mereka ketahui" (QS. Yaasiin (36) : 36).
Artinya :
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan
isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan
perempuan yang sangat banyak." (QS. An Nisaa’ (4) : 1)
Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
dijelaskan :
"Maka sesungguhnya perempuan
itu diciptakan dari tulang rusuk Adam"
(HR. Bukhari-Muslim)
Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak
langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah
usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat
semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah
keturunan yang akan meneruskan generasinya.
B. Asal
Mula Kejadian Manusia Menurut Al-Quran
Proses Kejadian
Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa) adalah asal usul manusia,
yaitu kita diciptakan tidak langsung seperti nabi Adam As. Dan Siti Hawa, namun
ada beberapa proses yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an. Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa
kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al
Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis. Di dalam Al Qur’an
proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui
firman-Nya :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ
نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا
الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ
لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ
الْخَالِقِينَ ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ ثُمَّ إِنَّكُمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
Artinya :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan
segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami
bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun :
12-14).
وَ” اللَّهْ “لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَان” آدَم “مِنْ سُلَالَة” هِيَ مِنْ
سَلَلْت الشَّيْء مِنْ الشَّيْء أَيْ اسْتَخْرَجْته مِنْهُ وَهُوَ خُلَاصَته “مِنْ
طِين” مُتَعَلِّق بِسُلَالَةٍ. “ثُمَّ
جَعَلْنَاهُ” أَيْ الْإِنْسَان نَسْل آدَم “نُطْفَة” مَنِيًّا “فِي قَرَار مَكِين”
هُوَ الرَّحِم. “ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَة عَلَقَة” دَمًا جَامِدًا
“فَخَلَقْنَا الْعَلَقَة مُضْغَة” لَحْمَة قَدْر مَا يُمْضَغ “فَخَلَقْنَا
الْمُضْغَة عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَام لَحْمًا” وَفِي قِرَاءَة عَظْمًا فِي
الْمَوْضِعَيْنِ وَخَلَقْنَا فِي الْمَوَاضِع الثَّلَاث بِمَعْنَى صَيَّرْنَا
“ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَر” بِنَفْخِ الرُّوح فِيهِ “فَتَبَارَكَ اللَّه
أَحْسَن الْخَالِقِينَ” أَيْ الْمُقَدِّرِينَ وَمُمَيَّز أَحْسَن مَحْذُوف
لِلْعِلْمِ بِهِ : أَيْ خَلْقًا
Artinya :
(Dan) Allah telah berfirman, (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia)
yakni Adam (dari suatu sari pati) lafal Sulaalatin berasal dari perkataan
Salaltusy Syai-a Minasy Syai-i, artinya aku telah memeras sesuatu daripadanya,
yang dimaksud adalah inti sari dari sesuatu itu (berasal dari tanah) lafal Min
Thiinin berta’alluq kepada lafal Sulaalatin. (Kemudian Kami jadikan ia)
manusia atau keturunan Adam (dari nuthfah) yakni air mani (yang berada dalam
tempat yang kokoh) yaitu rahim. (Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah) darah kental . (lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging)
daging yang besarnya sekepal tangan. (dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging) menurut
qiraat yang lain lafal ‘Izhaaman dalam dua tempat tadi dibaca ‘Azhman, yakni
dalam bentuk tunggal. Dan lafal Khalaqnaa yang artinya menciptakan, pada tiga
tempat tadi bermakna Shayyarnaa, artinya Kami jadikan. (kemudian Kami jadikan
dia sebagai makhluk yang lain) yaitu dengan ditiupkan roh ke dalam tubuhnya.
(Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik) sebaik-baik Yang Menciptakan. Sedangkan Mumayyiz dari lafal Ahsan tidak disebutkan, karena sudah dapat diketahui dengan sendirinya, yaitu lafal Khalqan. ( Tafsir Jalalain 2/195 )
(Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik) sebaik-baik Yang Menciptakan. Sedangkan Mumayyiz dari lafal Ahsan tidak disebutkan, karena sudah dapat diketahui dengan sendirinya, yaitu lafal Khalqan. ( Tafsir Jalalain 2/195 )
Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
“Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan.
Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya)
dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula
(empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat
puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat
untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat
(macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).” (HR.
Bukhari-Muslim)
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan
penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ
jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai
substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita
makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses
metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma),
kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran
antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian
berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan
dalam ayat diatas).
Para ahli dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara
bertahap pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi dalam Al
Qur’an dan Hadits yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah tercantum. Ini
sangat mengagumkan bagi salah seorang embriolog terkemuka dari Amerika yaitu
Prof. Dr. Keith Moore, beliau mengatakan : “Saya takjub pada keakuratan ilmiyah
pernyataan Al Qur’an yang diturunkan pada abad ke - 7 M itu”.
Selain itu beliau juga mengatakan, “Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak
mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan
hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika
ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya
itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad
ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan
genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi
jauh sebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah)
menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan
sifat-sifat dan nasibnya.
Artinya :
“…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga
kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam
selaput yang menutup anak dalam rahim)…” (QS. Az Zumar (39) : 6). Kita sebagai
umat yang mengakui dan meyakini rukun iman yang enam, maka sudah sepantasnya
kita mengakui bahwa Al Qur’an adalah satu-satunya literatur yang paling benar
dan bersifat global bagi ilmu pengetahuan.
Artinya :
“Kitab (Al Qur’an) in tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib…..” (QS. Al
Baqarah (2) : 2-3)
Dengan memperhatikan ayat tersebut maka kita seharusnya tidak perlu
berkecil hati menghadapi orang- orang yang menyangkal kebenaran keterangan mengenai asal usul
manusia. Salah satu fenomena yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan Al
Hadits adalah perkembangan janin dalam rahim yang kemudian dalam istilah ilmu
pengetahuan modern disebut embriologi.
Dari Al Qur’an dan Al Hadits di atas menunujukkan bahwa Allah Ta`ala
menciptakan manusia melalui fase-fase berikut :
-
Nuthfah
Ibnu Abbas RA memberikan tafsir tentang “min nuthfatin Amsyaj” dalam surat Al Mu’minun : 12 bahwa nuthfatun amsyaj adalah sperma laki-laki dan sel telur perempuan yang telah bertemu dan terjadi pembuahan kemudian terjadi perubahan dari keadaan yang satu kepada yang lain dan dari bentuk yang satu kepada bentuk yang lain. Imam Al Qurthuby Rahimahullah berkata : “Bahwasanya sperma di dalam rahim ketika dilepaskannya dengan kekuatan syahwat yang menjadikan mani itu tersebar dan bertaburan, maka Allah Ta`ala mengumpulkannya di dalam rahim tersebut”.
Gambar 1.
Riset para ahli embriologi menyebutkan bahwa selain mengandung spermatozoa
(sperma) air mani juga tersusun dari berbagai campuran yang berlainan yang
mempunyai fungsi masing-masing, misalnya mengandung gula yang diperlukan untuk
menyediakan energi bagi spermatozoa, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan
melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma. Air mani yang tersusun
dari berbagai campuran tersebut telah disebutkan dalam Al- Qur’an. “Yang
membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari
pati air yang hina (mani)”. (QS. As Sajdah : 7-8). Kata-kata
sulalah (saripati) pada ayat tersebut merupakan bagian yang mendasar atau
“bagian dari satu kesatuan”.
2.
‘Alaqah
Gambar 2.
3.
Mudghah
“…lalu segumpal darah itu Kami jadikan daging,…” ( QS. Al Mukminun : 14).
Mudghah yang mempunyai arti segumpal daging ini merupakan fase yang mana berbentuk lengkung, dengan penampakan gelembung - gelembung serta alur - alur.
Embrio yang tumbuh berumur 40 - 42 hari tidak lagi mirip dengan embrio hewan karena sudah dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW dari Hudzaifah ibnu Asid : “Ketika nuthfah telah lewat 42 malam dari penciptaan, Allah Ta`ala mengirim malaikat untuk membentuknya dan menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang. Kemudian malaikat bertanya : Ya Allah, ini akan dijadikan laki-laki atau perempuan ? Dan Allah memutuskan apa yang dikehendakiNya, ..” (HR. Muslim no : 2645)
Mudghah yang mempunyai arti segumpal daging ini merupakan fase yang mana berbentuk lengkung, dengan penampakan gelembung - gelembung serta alur - alur.
Embrio yang tumbuh berumur 40 - 42 hari tidak lagi mirip dengan embrio hewan karena sudah dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW dari Hudzaifah ibnu Asid : “Ketika nuthfah telah lewat 42 malam dari penciptaan, Allah Ta`ala mengirim malaikat untuk membentuknya dan menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang. Kemudian malaikat bertanya : Ya Allah, ini akan dijadikan laki-laki atau perempuan ? Dan Allah memutuskan apa yang dikehendakiNya, ..” (HR. Muslim no : 2645)
Gambar 3.
4.
Peniupan Ruh
Ruh merupakan penggerak dan pertanda dari kehidupan seorang hamba, tanpa
adanya ruh maka jasad yang telah terbentuk tidak akan sempurna. Tentang ruh ini
Allah Ta`ala berfirman : “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh.
Katakanlah “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. Al Isra’ : 85)
Para ahli ilmu mendefinisikan ruh sebagai organ lembut yang berada pada
badan. Proses peniupan ruh oleh malaikat tersebut diiringi dengan proses
penentuan rizkinya, ajalnya, amalnya dan ia celaka atau bahagia. Proses
peniupan ruh pada embrio tersebut ketika berumur 120 hari sebagaimana
disebutkan pada hadits dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud RA. yang sudah
tersebut di atas.
Gambar 4.
|
C.
Asal Mula
Kejadian Manusia Menurut Ilmu Dunia
Perbedaan pendapat tentang apakah adam manusia
pertama atau tidak, diciptakan langsung atau melalui suatu proses tampaknya
tidak akan ada ujungnya karena masing-masing akan teguh pada pendiriannya. Jika
polemik ini senantiasa diperpanjang, jangan-jangan hanya akan menghabiskan
waktu dan tidak sempat lagi memikirkan tentang status dn tugas yang telah
ditetapkan Allah pada manusia Al-Quran
cukup lengkap dalam memberikan informasi tentang itu.
Untuk memahami informasi tersebut secara mendalam,
ahli - ahli
kimia,
biologi, dan lain-lainnya perlu dilibatkan, agar dalam memahami ayat - ayat
tersebut tidak secara harfiah. Yang perlu diingatkan sekarang adalah bahwa
manusia oleh Allah, diharapkan menjadi khalifah (pemilih atau penerus ajaran
Allah). Status manusia sebagai khalifah, dinyatakan dalam surat Al-Baqarah ayat 30. Kata khalifah berasal dari kata khalafa yakhlifu khilafatan atau
khalifatan yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan
sebagai pemilih atau penerus ajaran Allah. Kebanyakan umat Islam menerjemahkan
dengan pemimpin atau pengganti, yang biasanya dihubungkan dengan jabatan pimpinan umat
islam sesudah Nabi Muhammad saw wafat, baik pimpinan yang termasuk khulafaurrasyidin
maupun di masa Muawiyah-‘Abbasiah.
Perlu diingat bahwa istilah khalifah pernah
dimunculkan Abu bakar pada waktu dipercaya untuk memimpin umat islam. Pada
waktu itu beliau mengucapkan inni khalifaur rasulillah, yang berarti aku adalah
pelanjut sunah rasulillah. Dalam pidatonya setelah diangkat oleh umat islam,
abu bakar antara lain menyatakan “selama saya menaati Allah, maka ikutilah
saya, tetapi apabila saya menyimpang , maka luruskanlah saya”. Jika demikian
pengertian khalifah, maka tidak setiap manusia mampu menerima atau melaksanakan
kekhalifahannya. Hal itu karena kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang
mau memilih ajaran Allah.
Sejarah asal mula manusia menurut Islam dan teori
evolusi menurut para ahli. Begitu banyak penemuan manusia dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi, tapi masih ada satu permasalahan yang hingga kini
belum mampu dijawab dan dijabarkan oleh manusia secara eksak dan ilmiah.
Masalah itu ialah masalah tentang asal usul kejadian manusia.
Banyak para ahli mempercayai bahwa, kehidupan
manusia berawal dari terpisahnya sebuah spesies hominid dari garis evolusi
primata yang akan menurunkan simpanse dan gorila. Kemudian, hominid ini
berkembang dan menurunkan manusia modern, Homo sapiens. pernyataan ini
dipengaruhi oleh teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles
Darwin.
Teori evolusi
adalah suatu teori yang menyatakan bahwa makhluk hidup pada masa lampau,
beradaptasi dan mengalami perubahan bentuk bagian-bagian tubuhnya. biasanya,
proses ini terjadi dalam waktu yang sangat lama. Proses ini disebut evolusi.
Teori evolusi mengatakan bahwa manusia merupakan
keturunan dari hominid. Hominid adalah makhluk hidup yang memiliki
ciri-ciri diantara manusia dan kera. Banyak fosil-fosil hominid ini tersebar di
seluruh bagian dunia. Fosil hominid tertua yang pernah ditemukan adalah
Australopithecus africanus. Hominid ini ditemukan di Afrika. Australopithecus
memiliki kapasitas otak sebesar 450 cc. Hominid ini sudah bisa berjalan dengan
posisi tegak. Posisi tegak ini sangat penting karena, posisi ini memberikan
beberapa keuntungan bagi hominid ini. Contohnya hominid ini sudah bisa melihat
benda dalam jarak yang jauh dan ia sudah bisa memindahkan berat ke tangan.
Sekitar 2 juta tahun yang lalu, muncullah Homo
habilis, spesies ini diperkirakan merupakan keturunan dari Australopithecus
africanus. Homo habilis sudah memiliki kemampuan untuk membuat
peralatan-peralatan kasar dari batu-batuan dan tulang hewan. Mereka bertahan
hingga sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Kemudian, mereka digantikan oleh Homo
Erectus.
Homo erectus adalah jenis hominid
yang kemungkinan besar merupakan keturunan dari Homo Habilis. Homo erectus
memiliki kapasitas otak yang lebih besar daripada Homo habilis. Mereka sudah
mamou membuat peralatan yang lebih halus dan rapi dari bebatuan dan tulang
hewan.
Kemudian, Homo erctus menurunkan Homo
Neanderthalensis. Homo Neanderthalensis hidup di gua-gua dan telah bisa
mengubur orang mati. Di beberapa wilayah, mereka mampu bertahan sampai 40.000
tahun yang lalu. Akan tetapi, mereka punah dan digantikan Homo sapiens, manusia
modern. Itulah sejarah asal mula manusia
menurut teori evolusi
D. Tugas Manusia Dimuka Bumi
Didalam Al-Qur’an ada tiga istilah yang digunakan untuk menunjuk manusia
yaitu :
1. Menggunakan huruf alif, nun, sin, semacam:
insan, ins, nas, dan unas.
2. Menggunakan basher
3. Menggunakan kata bani Adam dan Zuriyat Adam.
Sejatinya kita sudah tau apa tugas kita dimuka
bumi ini, kita diciptakan allah SWT sebagai Abdillah (abdinya Allah) dan
Khalifah.
1. Manusia sebagai Abdillah
Kita
hidup didunia ini tidak semata-mata untuk bersenang-senang, berfoya - foya dan
melakukan hal-hal diluar norma yang sudah Allah SWT gariskan, tidak tahu bahwa
nanti kita akan memasuki alam akhirat dan tidak tahu akan ada hari pembalasan.
Padahal kita hidup didunia ini yaitu untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah
SWT, sesuai dengan Firman Allah Q.S Adzariyat 56.
Artinya :
“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi “
Manusia dan jin diperintahkan
menyembah Allah SWT, wajib tunduk kepada peraturan Allah SWT, mereka dijadikan
atas kehendak-Nya tidak ada seorangpun yang dapat memberikan mampaat atau
mendatangkan mudharat karena semuanya adalah dengan kehendak Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah : 31.
!
Artinya :
“ …. Tidaklah mereka itu
diperintahkan untuk menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan(yang berhak disembah)
selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”
2. Manusia sebagai Khalifah (Pemimpin)
Nabi Adam AS diturunkan kebumi ini untuk menjadi
pemimpin yang mengelola bumi, karena manusia makhluk yang sempurna, buktinya
dengan kemajuan yang dilahirkan oleh manusia baik dari segi ilmu pengetahuan
dan teknologi yang semakin maju. Manusia juga sebagai pemimpin, bagaimana
mengatur kesetabilan kehidupan dunia supaya aman, damai, dan sejahtera.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat
Al-Baqoroh : 30
Artinya :
ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya
aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Dalam Al-Qur’an Surat AL-Araf 12
Artinya : Allah berfirman: "Apakah
yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?"
Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api
sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah".
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan
oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk
yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya
maka dia menjadi hidup.
Pada dasarnya segala sesuatu yang
diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan.
Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk
dijadikan kawan hidup (isteri). Siti hawa adalah manusia kedua setelah nabi
Adam AS.
Adapun tahap kejadian manusia yaitu;tahap kejadian
pertama (Adam), tahap
kejadian kedua(Hawa), dan tahap
kejadian ketiga(semua keturunan Adam dan hawa).
Manusia merupakan mahkluk yang
mempunyai banyak keistimewaan dibandingkan mahkluk ciptaan Allah yang lain.
Banyak sekali perdebatan mengenai asal-usul penciptaan manusia. Namun Al-qur’an
berhasil menjawab keraguan kita. Al Qur’an dan Al Hadits telah menjelaskan
secara periodik dan sistematik tentang tahap-tahap perkembangan embrio dalam
rahim.
Al-Quran menjelaskan tahap-tahap perkembangan sebelum kelahiran sebagai
berikut:
1. Nutfah (setetes sperma)
2. ‘alaqah ( segumpal darah yang melekat pada dinding uterus)
3. Mudhgah (segumpal daging yang belum bertulang)
4. Tulang, dan
5.
Daging
Allah menuturkan tentang
kekuasaan dan kelembutan-Nya mengenai penciptaan manusia dari setetes mani dari
satu tahap ketahapan lainnya, dari satu bentuk kebentuklainnya hingga
terciptalah sosok manusia yang lengkap dan sempurna, kemudian Allah berfirman {فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ} yaitu Maka
Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
B.
Saran
Perlunya
bagi kita umat Islam untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai ayat-ayat
al-Qur`an. Karena al-Qur`an sebagai pegangan hidup dan di dalamnya telah
tertera dengan jelas mengenai segala sesuatunya termasuk ayat Al-Quran yang
menyangkut tentang proses penciptaan/terbentuknya atau dengan kata lain
kejadian manusia. Tidak sepatutnya kita saling menyombongkan diri, menyalahkan
dan membenarkan diri atau takkabur terhadap sesama, karena manusia hanyalah
hamba yang lemah yang hanya diciptakan
dari tanah serta tetes air hina. Semua yang berkuasa dan yang patut sombong hanyalah Allah Azza
Wajallah. Maka dari itu mari kita saling menjaga dan intropeksi serta belajar
untuk menjadi manusia yang ideal dan manusia yang mempunyai insan iman dan takqwa.
Dan dalam penyusunan
makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritikan dan
saran dari pembaca sekalian demi kesempurnaan makalah ini dan sebagai bahan
pembelajaran buat kami.
DAFTAR PUSTAKA
file:///H:/t10406-proses-penciptaan-manusia-dalam-al-qur-an.htm